Header Ads Widget

Episode 3: Satu pilihan dapat mengubah akhir cerita.

 


Diskusi di Ruang Kerja Sang Viscount

Setelah memastikan Elizabeth dalam perawatan para pelayan, Randy melangkah menuju ruang kerja ayahnya. Koridor rumah besar keluarga Victor terasa lebih sunyi dari biasanya. Randy tahu, membawa pulang seorang putri bangsawan dari negara tetangga yang sedang dalam status pengasingan bukanlah masalah sepele.

Di depan pintu kayu ek besar, Keith mengangguk kecil sebelum membukanya. Di dalam, duduk seorang pria paruh baya dengan aura yang tajam namun tenang—Viscount Victor, ayah Randy.

"Duduklah, Randolph," suara ayahnya terdengar berat.

Randy duduk di hadapan ayahnya. Ia segera menjelaskan kronologi kejadian di Hutan Terkutuk secara mendetail; mulai dari penemuan jejak kereta, penyergapan oleh prajurit yang menyamar, hingga fenomena kabut hitam yang merasuki Elizabeth.

"Kabut hitam?" sang Viscount mengerutkan kening. "Kau yakin itu bukan sihir kutukan biasa?"

"Bukan, Ayah. Itu terasa seperti sesuatu yang lebih purba. Dan saat kabut itu merasukinya, aura Lady Elizabeth berubah drastis—seperti ada entitas lain yang mencoba bangkit."

Sang Viscount menghela napas, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Elizabeth von Brauberg... ayahnya adalah orang berpengaruh di Kerajaan Alexandria. Namun, jika dia dideportasi dengan cara sekeji itu—melalui rute paling berbahaya tanpa pengawalan memadai—artinya ada faksi kuat di kerajaannya yang menginginkan dia mati sebelum sampai ke perbatasan."

"Itulah yang kupikirkan," Randy mengangguk. "Jika kita melindunginya, kita berisiko menyinggung faksi tersebut. Tapi jika kita mengusirnya, martabat keluarga Victor akan hancur karena membiarkan wanita bangsawan mati di depan pintu kita."

Ayahnya menatap Randy dengan tajam. "Kau sudah mengambil keputusan besar di hutan itu, Randolph. Sekarang, apa rencanamu selanjutnya?"

Randy terdiam sejenak. Ia mengingat ekspresi Elizabeth yang tenang namun menyimpan luka yang dalam—ekspresi sang "Putri Es" yang telah kehilangan segalanya.

"Aku akan membiarkannya tinggal di sini sampai situasinya mendingin. Lagipula, aku curiga dalang di balik semua ini bukan hanya sang Pangeran, melainkan seseorang yang memiliki pengetahuan mendalam tentang 'permainan' ini."

Sang Viscount tidak bertanya lebih lanjut tentang istilah "permainan" yang digunakan anaknya—Randy memang sering menggumamkan hal-hal aneh sejak kecil.

"Baiklah. Selama dia berada di wilayah Victor, dia berada di bawah perlindungan kita. Keith!"

"Ya, Tuan Besar," Keith muncul dari balik bayangan.

"Siapkan keamanan ekstra di sekitar kediaman. Aku tidak ingin ada 'prajurit tersesat' lagi yang mencoba menyelesaikan pekerjaan mereka di tanahku."


Selesai menghadap ayahnya, Randy merasa sedikit lega. Namun, rasa penasaran tentang transformasi Elizabeth masih menghantuinya. Ia memutuskan untuk kembali ke kamar tamu sebelum makan malam.

Di depan kamar, ia melihat Rita sedang membawa nampan berisi teh.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Randy.

"Nona sudah selesai mandi, Tuan Muda. Beliau tampak lebih segar, tapi..." Rita ragu sejenak. "Beliau terus menatap ke arah jendela, seolah sedang menunggu seseorang."

Randy mengetuk pintu dan masuk. Elizabeth kini mengenakan gaun biru pucat yang disediakan rumah. Rambut peraknya yang sudah bersih kini berkilau tertiup angin dari jendela yang terbuka.

"Lady Elizabeth," sapa Randy.

Elizabeth menoleh. Untuk sesaat, Randy melihat kilatan kesedihan di matanya sebelum kembali ke topeng dinginnya.

"Tuan Randolph... terima kasih atas keramahan keluarga Anda. Aku sadar kehadiranku membawa beban politik bagi wilayah ini."

"Jangan terlalu dipikirkan. Ayahku bukan orang yang mudah diintimidasi oleh gertakan politik," Randy berjalan mendekat. "Tapi, ada satu hal yang ingin kutanyakan. Di hutan tadi... apa kau sadar sesuatu merasukimu?"

Elizabeth terdiam. Tangannya yang mungil meremas pinggiran gaunnya. "Aku... aku merasakan dingin yang luar biasa. Seolah-olah ada suara yang berbisik bahwa aku harus membalas dendam kepada mereka semua. Suara yang menjanjikan kekuatan untuk menghancurkan Kerajaan Alexandria."

Randy mengerutkan kening. (Apakah ini rute kebangkitan Boss Terakhir?)

"Lalu, kenapa suaranya berhenti?" tanya Randy.

Elizabeth menatap Randy dengan ekspresi yang sangat rumit—campuran antara kesal dan geli. "Suara itu hilang seketika saat kau menghantam kepalaku dengan pedang besar itu, Tuan Randolph. Sepertinya... roh kuno pun tidak tahan dengan benturan sekeras itu."

Randy menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, merasa sedikit malu. "Yah, itu adalah cara paling efektif yang terpikirkan olehku saat itu."

Untuk pertama kalinya, Elizabeth melepaskan senyum kecil yang tulus. "Mungkin kau benar. Terkadang, logika kaku tidak bisa melawan kekuatan kasar."

"Kalau begitu," Randy menawarkan tangannya. "Selamat datang di wilayah Victor, Lady Elizabeth. Mari kita buat 'takdir' baru yang tidak melibatkan penghancuran dunia."


PREVIOUS CHAPTER | LIST | NEXT CHAPTER