Bab: Sahabat dan Rahasia di Balik Gedung Sekolah
Menghadapi tuntutan Cecilia agar ia "membebaskan" Liz, Randy hanya bisa memegangi kepalanya dengan satu tangan. Ia berusaha memutar otak mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan situasi ini tanpa terdengar seperti penjahat.
"Bisa... tunggu sebentar?" rintih Randy.
Ia melirik ke arah Liz, memohon bantuan lewat tatapan mata, namun Liz hanya membalas dengan gelengan kepala dan ekspresi bingung. Sepertinya, rumor yang beredar di akademi sudah benar-benar melenceng jauh.
"Apakah kau akan terus berpura-pura bodoh?" Cecilia, yang emosinya sudah di puncak, mulai memberondong Randy dengan berbagai rumor tak berdasar.
Bahwa Randy membawa Liz kembali secara paksa. Bahwa ia sengaja memamerkan mantan bangsawan tinggi sebagai pelayan pribadinya. Dan tentu saja, skandal "renovasi asrama" yang dianggap sebagai bentuk pemberontakan Randy.
"Tolong, berhentilah memaksa Liza menuruti keinginanmu!" cecar Cecilia tajam.
"Uh..." Randy hanya bisa mengeluarkan suara konyol. Rupanya, perilaku Liz yang terlalu formal dan tunduk sebagai pengiring justru menjadi bumerang yang memicu fitnah.
"Nona Cecilia, itu semua hanya rumor. Anda tidak punya bukti, kan?" sela Randy mencoba membela diri.
"Aku punya bukti!" Cecilia menunjuk pergelangan tangan kiri Liz yang dihiasi gelang buatan tangan Randy. "Kau memberinya gelang itu, dan kau sendiri memakai gelang dengan warna yang sama! Itu warna timmu, kan? Kau menandainya seperti barang milik!"
Randy tersentak. Baru sekarang ia sadar bahwa warna merah tua pada gelangnya bisa diartikan sebagai "warna keluarga" atau klaim kepemilikan.
"Bahkan beberapa siswa mengira kalian sudah bertunangan—"
"Apa?! Bertunangan?!" seru Randy dan Liz bersamaan.
Wajah keduanya memerah padam seketika. Mereka saling pandang sesaat sebelum membuang muka dengan canggung.
"Lihat? Kalian bahkan tidak bertunangan! Jadi apa lagi penjelasannya selain kau memaksanya memakai warna itu?" Cecilia menarik napas dalam, nadanya sedikit melunak namun tetap serius. "Aku berterima kasih karena kau telah menyelamatkannya dari pengasingan. Tapi jika kau memanfaatkan situasinya untuk memaksanya melakukan hal-hal yang tidak ia inginkan... aku tidak akan memaafkanmu."
Randy menghela napas panjang, menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu menoleh ke arah Liz. "Liz, aku serahkan ini padamu. Percuma aku bicara, dia tidak akan percaya."
Liz mengerti posisi Randy. Ia maju selangkah dan membungkuk dengan anggun. "Nona Cecilia, sudah lama sekali kita tidak bicara. Mengenai tuduhan itu... saya tidak pernah dipaksa oleh Lord Randolph."
Cecilia menggeleng kuat. "Lalu kenapa kau bicara begitu formal dan dingin padaku? Kau memanggilku 'Nyonya'!"
"Status saya sekarang adalah pegawai negeri, sedangkan Anda adalah putri bangsawan tinggi. Jika saya terlalu akrab, itu akan merusak reputasi Lord Randolph dan Anda sendiri," jelas Liz tenang.
"Aku tidak peduli soal itu!" seru Cecilia sedih.
Randy menatap pemandangan itu dan menyadari sesuatu. Cecilia terlihat sangat terpukul. Ia menghela napas panjang ke arah langit.
"Liz," panggil Randy. "Ya?" "Ini salahmu."
"Hah?" seru Liz dan Cecilia serentak.
"Cecilia memanggilmu 'Liza', itu artinya dia menganggapmu sahabat, kan?" Randy menatap Liz dengan saksama. "Lihatlah sekeliling. Tidak ada orang di sini. Cecilia sengaja membawaku ke tempat sepi agar kau bisa bicara bebas tanpa khawatir soal tatapan orang lain. Dia bahkan berani melabrak 'penjahat' sepertiku sendirian hanya karena mengkhawatirkan keselamatanmu."
Randy tersenyum kecut. "Penuhilah harapan temanmu itu, Liz. Dia hanya rindu padamu."
Liz tertegun. Ia menyadari bahwa di balik tuduhan gegabah Cecilia, tersimpan rasa kasih sayang yang tulus. Liz tersenyum lembut, kali ini tanpa topeng formalitas.
"Cecily... sudah lama sekali ya." "Ah... Liza!"
Cecilia langsung menghambur dan memeluk Liz dengan erat. Air mata mulai mengalir di pipinya. Ia terus meminta maaf karena merasa tidak berdaya saat Liz diasingkan dulu. Randy hanya menonton dari kejauhan, merasa lega karena kesalahpahaman ini berakhir damai.
(Untung Ellie tidak keluar dan mengacau,) batin Randy.
Namun, suasana menjadi sedikit tegang saat Cecilia menanyakan alasan sebenarnya di balik pengusiran Liz yang mendadak. Liz terdiam. Ia tidak mungkin menceritakan rahasia tentang Eleonora atau konspirasi istana yang masih gelap.
"Ada apa, Liza?" tanya Cecilia heran melihat sahabatnya tertunduk.
"Nona Cecilia," Randy menyela dengan suara berat dan ekspresi serius. "Mohon jangan bertanya lebih jauh. Diskusi mengenai hal itu akan membawa dampak besar bukan hanya bagi Anda, tapi juga bagi keluarga Hartfield."
Melihat keseriusan Randy, Cecilia tersentak. Ia mengerti bahwa ada rahasia negara yang berbahaya di balik senyum Liz.
"Liza..." "Tidak apa-apa, Cecily. Aku punya banyak sekutu sekarang," ucap Liz sambil melirik Randy.
Cecilia memeluk Liz sekali lagi. "Aku juga. Aku akan selalu ada di pihakmu."
Sebelum pergi, Cecilia membungkuk hormat pada Randy. "Tuan Randolph Victor, saya mohon maaf atas perilaku kasar saya tadi."
"Bukan masalah. Aku justru lega melihat Liz punya teman setia sepertimu di sekolah ini," balas Randy tulus.
Setelah Cecilia menghilang di balik koridor, Randy menoleh pada Liz.
"Jangan terlalu kaku lagi kalau sedang berdua dengannya. Mengobrol atau makan bersama tidak akan memicu perang saudara, kok."
Liz mengangguk bahagia. "Terima kasih, Randy."
"Ayo masuk kelas. Kita sudah cukup terlambat dan cukup mencolok untuk hari ini."
Saat mereka mulai berjalan, sebuah suara tiba-tiba menggema di pikiran mereka.
"Wah, Randy, kau ternyata bisa bersikap bijaksana juga ya?"
"Oh, Ellie? Ternyata kau memerhatikan," sahut Randy dalam hati. "Kira-kira kau punya teman juga tidak saat masih hidup dulu?"
"Tentu saja punya! Tidak sepertimu, aku ini populer!"
"Hahaha, benarkah? Jangan-jangan itu cuma teman khayalanmu saja."
"RANDY! JANGAN BERTERIAK DI KORIDOR SEKOLAH!" teriak Liz (dan Ellie) bersamaan, membuat Randy tertawa renyah sambil memasuki ruang kelas.
Bab Selesai. Ketegangan berkurang, namun rahasia tetap terjaga. Bagaimana hari pertama Randy di kelas? Simak di bagian selanjutnya!