Pasangan Pengantin Baru Reina dan Kurael ①
"Wow... hari ini ada bunga-bunga menakjubkan lagi yang mekar. Sekarang malah ada bunga sakura..."
Saat Kurael membuka pintu dan melihat ke luar, ia tak bisa menahan senyum kecutnya. Halaman Kuil Agung dipenuhi dengan beragam flora yang menakjubkan. Padahal baru sebulan yang lalu, tak ada sehelai gulma pun yang tumbuh di tanah itu. Namun sekarang, beberapa pohon setinggi orang dewasa telah tumbuh dan mekar sepenuhnya. Itu adalah bunga sakura. Kelimpahan bunga-bunga putih ini mengingatkan Kurael pada Jepang di kehidupan masa lalunya.
"Yah... hari ini waktunya bekerja lagi."
Kurael meregangkan tubuhnya dan menyemangati dirinya sendiri.
Akhir-akhir ini, rentetan mukjizat terus terjadi silih berganti di Kuil Eggbell. Bunga-bunga yang sama sekali tidak Kurael ingat pernah ditanam kini bermekaran indah di taman, pelangi besar membentang megah di langit meskipun tidak sedang turun hujan, dan bulu-bulu putih nan lembut berjatuhan dari langit layaknya salju. Ini jelas bukan sekadar fenomena alam biasa. Ini adalah keajaiban yang dipicu oleh luapan kekuatan khusus.
"Tuan Kurael, sarapannya sudah siap ♡"
Seorang wanita cantik yang mengenakan celemek muncul dari belakang Kurael. Rambut putih keperakannya dibiarkan terurai membelai punggung. Matanya yang berwarna giok bersinar terang layaknya permata langka. Kulitnya sehalus salju segar, dan fitur wajahnya terbentuk sempurna, benar-benar bagaikan sebuah karya seni tanpa cela ciptaan Tuhan.
Reina Laurel, sang Santa dan pahlawan wanita utama dari gim otome "Beyond the Rainbow-Colored Gleam"... bukan, bukan itu identitasnya sekarang.
"Oh... aku salah panggil. Bukan Tuan Kurael, melainkan suamiku... ♡"
Pipinya memerah manis saat ia tersenyum malu-malu.
Ia bukan lagi bagian dari keluarga 'Laurel'. Namanya kini adalah Reina Byrne, dan rona merah selalu menghiasi pipi putihnya yang mudah tersipu. Ia adalah seorang Santa dunia ini, sekaligus istri sah dari Kurael.
Sebulan yang lalu, Kurael dan Reina melangsungkan pernikahan di Kota Eggbell, tepatnya di kuil ini. Mereka resmi menjadi sepasang suami istri, diberkati oleh begitu banyak pihak: teman-teman seperjuangan, warga kota, hingga tokoh-tokoh penting di negara ini.
Setelah hari pernikahan tersebut, keduanya tetap memutuskan untuk tinggal di Kuil Eggbell. Yang Mulia Raja dan para Kardinal sebenarnya bersikeras menawari mereka sebuah rumah besar dan mewah di ibu kota sebagai tempat tinggal, tetapi bagi mereka berdua, kuil kecil ini adalah tempat yang paling nyaman dan penuh kenangan. Reina akhirnya diizinkan tetap bermukim di Eggbell, dengan syarat ia harus rutin berkunjung ke Kuil Agung pusat di ibu kota kerajaan.
"Istriku juga terlihat sangat bahagia hari ini... Ya, itu hal yang bagus."
Semenjak menikah, Reina secara tidak sadar sering memicu serangkaian fenomena supranatural. Sebagai seorang Santa, kemampuannya bersumber dan bertambah kuat melalui kekuatan cinta. Setelah resmi menikah dengan pria yang paling dicintainya, kekuatannya berlipat ganda hingga meluap tanpa kendali, mengakibatkan terjadinya berbagai mukjizat kecil di sekitar area kuil setiap harinya.
"Ini dia. Silakan makan sepuasnya, Suamiku ♡♡♡"
Ketika Kurael melangkah ke ruang makan, Reina sedang merentangkan tangannya lebar-lebar, seolah secara harfiah memancarkan rentetan simbol hati berwarna merah muda ke udara.
Meskipun hari masih sangat pagi, meja makan mereka sudah dipenuhi dengan gunungan hidangan. Hidangan tersebut meliputi salad dengan beragam sayuran berwarna-warni, telur orak-arik, potongan bakon tebal, ham, sosis, telur dadar, kentang goreng, salmon asin, tahu dingin, sayuran rebus, kroket mini, serta tiga jenis sup gratin (kaldu, jagung, dan bawang). Ditambah lagi ada porsi besar nasi dan roti. Untuk hidangan penutup, tersedia berbagai macam buah-buahan segar.
Meja kayu itu benar-benar penuh sesak oleh menu yang terlihat persis seperti jamuan sarapan prasmanan di hotel bintang lima.
"Wow... hari ini menunya benar-benar seperti pesta."
"Ya! Aku bangun pagi-pagi sekali untuk memasak semua ini khusus untuk Tuan Kurael ♡♡♡"
Dengan mata gioknya yang berbinar-binar, suara Reina dipenuhi dengan kegembiraan murni.
Namun, sepagi apa pun istrinya bangun, jelas mustahil bagi satu orang untuk memasak makanan sebanyak ini sendirian... Ketika Kurael melirik ke arah dapur, ia melihat barisan boneka beruang, kucing, dan burung shoebill ajaib yang masing-masing mengenakan topi koki mungil. Mereka berdiri berjejer di ambang pintu dapur dengan tangan bersilang, tampak sangat mengintimidasi. Boneka-boneka yang membusungkan dada seolah menantang berkata, "Hebat, kan?!" itu, sudah tidak diragukan lagi, merupakan asisten koki yang berkontribusi besar di balik layar sarapan gila-gilaan ini.
(Semuanya memang terlihat sangat lezat, tapi... sebanyak inikah porsi makan kami berdua setiap hari? Apakah pasangan pengantin baru normalnya memang selalu menyantap hidangan sebanyak ini sepanjang waktu?)
"Haha... sarapannya terlihat luar biasa enak, tapi kurasa berat badanku bisa naik tajam kalau makan sebanyak ini terus..."
"Naik berat badan... gemuk...?"
Ketika Kurael memaksakan senyum hambar, Reina justru memiringkan kepalanya dengan raut wajah kebingungan.
Kalau dipikir-pikir lagi... Reina sama sekali tidak mengerti konsep 'menjadi gemuk'. Sebagai entitas suci, sebanyak apa pun ia makan, tubuhnya tidak akan pernah mengalami penumpukan lemak. Segala nutrisi berlebih yang ia konsumsi akan langsung dikembalikan ke bumi oleh sihirnya, mengalir membaur menjadi berkah alam bagi umat manusia di sekitarnya.
"Tunggu, jika Tuan Kurael bertambah sedikit berisi, itu pasti akan membuatnya terlihat semakin menawan dan menggemaskan, bukan? ♡ Ah, itu sepertinya ide yang sangat bagus... ♡♡♡♡♡!"
"Tolong, ampuni aku. Lagipula, ada terlalu banyak simbol hati beterbangan di ruangan ini, jadi tolong tenangkan dirimu sedikit, Sayang."
Kurael segera duduk di kursi makan, dengan tenang berusaha menahan antusiasme istrinya yang tampak seolah siap meledakkan gelembung cinta berwarna merah muda dari kepalanya kapan saja.
"Baiklah, kalau begitu mari kita mulai makan."
"Selamat makan... ♡♡♡♡♡♡"
Kurael dan Reina menikmati sarapan mereka sambil duduk saling berhadapan. Meskipun matahari baru saja terbit, Reina terus memancarkan aura penuh kasih sayangnya dengan begitu bersemangat, tanpa sungkan sedikit pun.
Bahkan sebulan setelah pernikahan sakral mereka, intensitas kasih sayangnya sama sekali tidak memudar; sebaliknya, perasaan itu justru tampak semakin membara setiap harinya, hingga nyaris mencapai tingkat yang memabukkan dan terasa tidak masuk akal.
(Yah, badai cinta yang menggebu-gebu ini pada akhirnya pasti akan mereda sering berjalannya waktu. Semuanya akan kembali normal, kehidupan pernikahan kami pasti akan menjadi tenang... kan?)
Dengan perasaan cemas membayangkan masa depan yang terlalu membahagiakan hingga rasanya bisa membuat perutnya mulas kapan saja, Kurael perlahan menyesap sup kaldu hangatnya.
"Selamat pagi semuanya! Semoga hari ini menjadi hari yang menyenangkan bagi kita semua! ♡♡♡♡♡♡"
Setelah sarapan usai dan semua tumpukan piring selesai dicuci serta dirapikan, tibalah waktunya untuk menjalankan tugas rutin mereka. Keduanya melangkah maju, membuka pintu utama kuil lebar-lebar, dan menyambut ramah puluhan warga kota yang telah sabar menunggu di luar.
"Oh, astaga... Nona Reina terlihat sangat memukau lagi hari ini..."
"Wah, auranya terang sekali... melihatnya langsung rasanya seperti sedang menatap matahari dari jarak dekat."
Seorang warga lanjut usia yang datang pagi-pagi untuk menerima perawatan medis tampak sangat terkejut melihat Reina. Sang Santa menyambut mereka dengan senyuman paling berseri dan ilusi simbol hati kecil yang menguar di sekitarnya.
Pasien itu sebenarnya adalah salah satu jamaah setia yang telah lama mengabdi di kuil, tetapi hari ini bahkan ia pun tampak kewalahan menatap pancaran aura suci Reina yang masih asyik terbawa arus euforia kebahagiaan pengantin baru.
"Pendeta pengganti yang bertugas di sini sebelumnya memang luar biasa hebatnya, tapi... pancaran cahaya Reina-chan benar-benar pada level yang menakjubkan. Terlalu terang sampai-sampai mataku rasanya mau terbakar."
Pendeta pengganti yang dimaksud kakek itu pastilah Gievil, sosok yang diutus menjaga kuil ini saat Kurael, Reina, dan rombongan pahlawan sedang pergi menjalankan misi melawan Raja Iblis.
Setelah turut hadir menyaksikan dan memberkati pernikahan Kurael dan Reina sebulan yang lalu, pria itu memutuskan pamit untuk mengembara ke suatu tempat. Kurael sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Gievil belakangan ini, setelah pria itu berhasil berevolusi dan mengubah wujud sejatinya hingga menyerupai patung dewa dengan delapan wajah dan enam lengan.
Namun belakangan, sesekali Kurael tak sengaja mendengar rumor konyol dari para pedagang keliling mancanegara tentang "seorang pria paruh baya yang wujudnya aneh dengan banyak wajah dan lengan, terlihat terbang melesat di udara sambil memancarkan cahaya terang". Menilai dari gosip jalanan tersebut, kemungkinan besar Gievil baik-baik saja dan sedang menikmati perjalanannya.
"Baiklah, mari kita mulai sesi perawatannya hari ini! ♡ Ayo kita mulai! ♡"
"Ohhh...!"
"Wah, terasa sangat hangat..."
Reina merentangkan tangannya dan memancarkan cahaya penyembuhannya ke arah sekumpulan lansia yang telah duduk rapi. Tubuh ringkih mereka secara serempak diselimuti oleh pendaran cahaya suci... dan hanya dalam hitungan detik, punggung bungkuk mereka perlahan kembali tegak lurus. Keriput kelelahan di wajah mereka memudar drastis, digantikan oleh rona kulit yang segar dan sehat layaknya puluhan tahun lebih muda.
"Astaga, sakit punggung kronisku langsung hilang tanpa bekas!"
"Nyeri pada persendian lengan dan kakiku juga lenyap begitu saja!"
"Lihat ini, pergelangan kakiku yang terkilir parah kemarin sore juga sudah sembuh total bisa dipakai melompat! Benar-benar sesuai harapan dari kemampuan Reina-chan!"
"Sungguh mukjizat yang nyata dari Santa kita tercinta. Terima kasih banyak, terima kasih..."
Para lansia itu tak henti-hentinya meneteskan air mata haru sembari mengucapkan kata-kata syukur dan pujian.
Kemampuan penyembuhan Reina sejak awal masa pelatihannya memang sudah luar biasa, tetapi belakangan ini skalanya tampak semakin berevolusi menuju kesempurnaan sejati. Kurael benar-benar takjub melihat Reina yang kemampuannya tak stagnan dan terus berkembang semakin sakti, bahkan setelah tujuan akhir mereka—mengalahkan Raja Iblis—telah tercapai.
"Dia mampu menyembuhkan begitu banyak pasien sekaligus hanya dengan satu rentangan tangan... melihatnya seperti ini, rasanya keberadaanku sebagai asisten benar-benar sudah tidak dibutuhkan lagi di sini..."
"Ya ampun, kenapa Sang Pendeta mendadak jadi begitu sentimental dan melankolis pagi-pagi begini?"
"Tuan Oratorio..."
Orang yang barusan masuk dan menyela lamunan Kurael adalah Oratorio, sang pemilik butik pakaian mewah sekaligus teman dekat Kurael yang sering jadi teman curhatnya. Pria berotot itu meliukkan postur kekarnya dengan gemulai, menempelkan satu jari telunjuk lentiknya yang berhias cat kuku ke bibir, lalu menyunggingkan senyuman penuh arti.
"Kita semua yang ada di kota ini sudah tahu faktanya, kan? Sumber utama kekuatan magis Reina-chan yang tak ada habisnya saat ini adalah cinta meluap dari suaminya sendiri. Jika kau terus merasa minder dan merendahkan dirimu sendiri dengan menggumamkan hal tak berguna seperti itu, justru itu hanya akan membuat istrimu merasa sedih dan bersalah."
"Ya, aku sangat mengerti. Lagipula, tenang saja, aku sudah lama berhenti merasa rendah diri kok."
Kurael mengangkat bahunya dengan rileks. Oratorio memang benar... Kurael tak lagi merasa bersedih atau terintimidasi karena membandingkan kekuatan dirinya sendiri yang biasa-biasa saja dengan kehebatan Reina.
Kurael telah lama membuang kebiasaannya meremehkan diri sendiri. Ia telah bertekad bulat untuk menjalani kehidupan barunya ini dengan penuh kebanggaan dan dada yang tegak, agar ia bisa membuktikan bahwa ia adalah satu-satunya pria yang layak untuk memantaskan diri berdiri seumur hidup di sisi Reina.
"Oh, pemikiran yang sangat bagus dan jantan... Dan kalau kuperhatikan lagi, siapa sangka, Reina kecil kita kini benar-benar telah mekar menjadi wanita dewasa yang sempurna."
Oratorio melirik ke arah Reina yang sedang tertawa lembut sambil menyalami para lansia, lalu pria kekar itu menyipitkan matanya dengan tatapan sayu yang penuh akan nostalgia.
"Aku sudah turun tangan merancang dan menjahitkan pakaian untuk gadis kecil itu sejak hari-hari pertamanya di sini. Jadi aku benar-benar bisa merasakan setiap inci perubahannya tumbuh besar. Ia sungguh telah berkembang sangat pesat."
"...Kau benar."
Gadis itu telah tumbuh begitu besar. Ia telah menjadi sosok yang begitu dihormati seluruh negeri.
Hal itu sama sekali tidak bisa dibantah. Ketika Kurael pertama kali membawanya masuk dengan tangan gemetar ke kuil ini bertahun-tahun yang lalu, tinggi puncak kepala Reina baru sebatas perut Kurael. Tubuhnya saat itu sangatlah kurus, ringkih, dan sangat mungil jika dibandingkan dengan anak-anak sehat seusianya.
Namun... lihatlah sekarang. Ia menjelma menjadi eksistensi yang sungguh menakjubkan, bagaikan seekor angsa putih rupawan yang sedang membentangkan sayapnya dengan bangga di bawah sinar matahari. Ia kini punya kekuatan mutlak untuk terbang tinggi melanglang buana ke ujung dunia mana pun dengan sayap kemampuannya sendiri.
(Namun... di antara seluruh pilihan bebas yang terbuka lebar baginya di dunia ini, ia pada akhirnya menepis semuanya dan memilih untuk tetap bersanding di sampingku. Kurasa sebagai suaminya, aku memang berhak untuk merasa sangat bangga akan hal itu.)
"Ngomong-ngomong... Pendeta, mumpung kau sedang lengah, bolehkah aku menanyakan satu hal krusial padamu?"
"Ada apa? Kenapa mendadak nada bicaramu jadi serius sekali begitu?"
Ekspresi wajah berhias make-up Oratorio seketika berubah menjadi sangat serius bak seorang pebisnis kelas kakap, dan ia melontarkan pertanyaannya kepada Kurael dengan tatapan mata yang setajam elang.
"Tolong dicatat, tidak ada maksud aneh-aneh dan tersembunyi di balik tawaranku ini, tapi... aku sedang dalam tahap akhir persiapan meluncurkan koleksi lini pakaian bayi di butikku dalam waktu dekat. Dan aku sangat butuh seorang model bayi mungil yang sempurna untuk mencobanya sebagai bentuk kampanye promosiku... Jadi, apakah kalian berdua kira-kira punya 'rencana' memproduksi pewaris dalam waktu dekat?"
"......"
"Hei, hei... tunggu! Tolong jangan menatapku dengan niat membunuh seperti itu! Aku kan cuma iseng bertanya demi kelancaran bisnis pentingku!"
Tanpa basa-basi, Oratorio buru-buru mengambil langkah mundur dan melarikan diri menjauh, melontarkan alasan dengan nada panik seolah-olah ia baru saja dibangunkan oleh hantu. Kurael sendiri tidak tahu pasti aura pembunuh macam apa atau seringai iblis seperti apa yang baru saja tergambar di wajahnya secara tak sadar, tapi menilai dari reaksi berlebihan pria berotot raksasa itu hingga lari terbirit-birit, sepertinya wajah Kurael terlihat cukup mengerikan.
"Astaga... kami ini masih pasangan pengantin baru yang umurnya baru sebulan, biarkan kami bernapas sedikit dan menikmati kehidupan romansa berdua ini dengan tenang dulu..."
Entah karena penjahit eksentrik itu hanya sekadar penasaran atau memang punya niat nekat ikut campur dalam urusan ranjangnya, Kurael hanya bisa memijat pangkal hidungnya yang pening dan mengerutkan kening menatap kepergian sang perusuh dari pelataran kuilnya pagi itu.
Previous Chapter | LIST | Next Chapter
0 Comments