Mudah sekali terlena dalam suasana liburan di tempat seperti ini, tetapi secara teknis, aku berada di sini untuk mengikuti kamp pelatihan bersama Akademi Knights. Meskipun siswa penerima beasiswa sepertiku diberi kebebasan lebih, tetap ada beberapa kelas wajib yang tidak bisa dihindari.
Salah satunya adalah "Latihan Tempur Angkatan Laut".
Rencananya, pelatihan ini akan memanfaatkan kekayaan alam laut Ethan yang luar biasa untuk simulasi tempur yang realistis. Tujuannya agar kami mampu mengambil keputusan tepat tidak hanya di darat, tapi juga di permukaan dan di dalam air.
Sejujurnya, aku sempat sangsi. Apakah para ksatria yang biasanya mengenakan baju zirah berat benar-benar akan bertempur di tengah laut? Namun, mengingat Akademi Knights juga mencetak lulusan untuk organisasi pelaut dan angkatan laut kerajaan, kurasa ini semacam pengenalan jalur karier.
Hari pelatihan pun tiba. Seluruh siswa Akademi Knights berkumpul di tepi pantai.
"Woooooo! Laut!!" "Luas sekali! Sejauh mata memandang hanya ada air!!" "Aku bersemangat sekali!"
Sorakan para siswa laki-laki pecah, terdengar lebih seperti seruan perang daripada sekadar kekaguman. Meski secara resmi ini adalah pelatihan, semua orang tahu bahwa agenda tersembunyinya adalah pelepas penat. Setelah berhari-hari ditekan dengan latihan fisik yang membosankan di Ethan, laut adalah obat stres yang paling ampuh.
"Wah, luar biasa, Arcus! Airnya benar-benar asin!"
Sebuah suara riang memanggil namaku. Emma, teman sekelasku sekaligus tokoh utama di dunia ini, tertawa renyah sambil mencelupkan kakinya ke air laut yang jernih.
"Emma belum pernah melihat laut sebelumnya?" "Belum! Aku tumbuh besar di desa pedalaman, jadi aku tidak menyangka laut bisa seindah ini!"
Emma menunjukkan senyum yang begitu berseri-seri. Dalam gim aslinya, memang ada adegan di mana para karakter merasa takjub saat pertama kali melihat laut di Ethan. Sepertinya dunia ini masih mengikuti beberapa elemen penting dari alur aslinya.
Namun, lamunanku terhenti saat menyadari tatapan menusuk dari para siswa laki-laki di sekitar kami. Saat aku menoleh, mereka tiba-tiba memalingkan wajah dengan pipi yang sedikit merona.
Ah, aku lupa.
Kami semua sedang mengenakan pakaian renang. Karena ini "latihan angkatan laut" yang santai, anak laki-laki hanya memakai celana renang, sementara anak perempuan mengenakan bikini atau pakaian renang serupa.
Hei, ini benar-benar disebut pelatihan?! protesku dalam hati.
Tapi kemudian aku tersadar. Ini adalah dunia gim otome. Acara pakaian renang adalah fanservice wajib yang harus ada. Akan lebih aneh jika momen seperti ini tidak terjadi.
"Lho? Kenapa mereka semua memalingkan muka?" tanya Emma dengan kebingungan yang sangat alami khas seorang protagonis.
"Yah... kurasa mereka punya alasan masing-masing," jawabku diplomatis.
Emma saat ini mengenakan bikini dengan hiasan renda yang manis. Sebagai karakter utama, desain pakaian renangnya memang digambarkan sangat imut di dalam gim dan sempat menjadi topik hangat di kalangan pemain. Bagi para calon ksatria yang biasanya hanya melihat pedang dan perisai, kulit terbuka seorang gadis adalah racun sekaligus katalis yang terlalu kuat.
"Jangan lengah!! Semuanya, berbaris!!"
Sebuah raungan menggelegar memecah suasana. Itu adalah instruktur kami, Profesor Kirill Geister. Ia berdiri tegak bak dewa penjaga, memamerkan otot-otot tubuhnya yang sekeras baja. Aura intimidasi yang ia pancarkan seketika membuat semua orang menegakkan punggung dan masuk ke barisan.
Untungnya, Profesor Kirill masih mengenakan pakaian pelatih yang layak, tidak hanya celana renang seperti yang kami khawatirkan sebelumnya.
"Hari ini kita akan melaksanakan Latihan Tempur Angkatan Laut!" suaranya menggelegar. "Kalian akan menggunakan perahu untuk menghancurkan kapal musuh dan mencapai sasaran! Kalian harus mengemudi dan bertempur sendiri!"
Para siswa mulai berbisik cemas. Banyak dari mereka yang belum pernah menyentuh kemudi perahu. Namun, satu tatapan tajam dari Profesor Kirill cukup untuk membungkam semua keluhan.
"Kalian akan berkompetisi dalam tim berdasarkan pasangan yang sudah didaftarkan sebelumnya! Bekerja samalah dan raih kemenangan!!"
Satu per satu nama pasangan dipanggil. Aku mulai merasa gelisah. Seingatku, aku belum mendaftarkan pasangan karena sibuk dengan tugas khusus yang diberikan sebelumnya. Dan benar saja, mata Profesor Kirill akhirnya tertuju padaku.
"Dan terakhir, Arcus Fort. Kali ini kau akan menjalani pelatihan secara... Solo."
"H-hah? Solo?!"
Bukan bergabung dengan kelompok lain? Bukan dibantu instruktur? Solo?
"Hanya saya sendiri, Prof? Saya bahkan tidak tahu cara mengemudikan perahu tempur atau bermanuver di bawah air sendirian!"
"Jangan banyak alasan! Anggap saja ini tugas tambahan untuk siswa beasiswa peringkat pertama!" sahutnya tegas.
Perlakuan terhadap peringkat satu benar-benar tidak adil. Aku bukan manusia super yang bisa melakukan segalanya dalam sekali jalan!
"Oh, aku lupa menyebutkan," tambah Profesor Kirill. "Pelatihan ini berbasis poin. Poin diberikan berdasarkan kapal musuh yang hancur dan kecepatan mencapai tujuan. Mereka yang melampaui poin tertentu akan mendapat hadiah istimewa."
Ini seperti permainan survival. Jika kau bertahan dan mendapatkan banyak "kill", kau menang. Tentu saja berjuang sendirian akan sangat merugikan poin. Namun, Profesor Kirill belum selesai dengan pengumumannya.
"Dan satu lagi... siapa pun yang berhasil mengalahkan Arcus Fort, akan menerima hadiah tanpa syarat!!"
"..."
Eh?
Suasana pantai yang tadinya ceria mendadak berubah menjadi dingin. Aku bisa merasakan puluhan pasang mata siswa laki-laki—yang sejak tadi iri melihatku mengobrol dengan Emma—kini menatapku seolah-olah aku adalah mangsa paling lezat di dunia.
PREVIOUS CHAPTER | LIST | NEXT CHAPTER