Setelah kembali ke hotel, kami memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu. Restoran yang terhubung dengan asrama itu sangat ramai, mungkin karena jam makan malam sedang mencapai puncaknya. Yang tidak mengejutkan adalah pemandangannya; hampir setiap tamu berpakaian mewah layaknya bangsawan kelas atas. Klaim bahwa tempat ini adalah favorit kalangan elit ternyata bukan sekadar isapan jempol.
Makanan disajikan secara prasmanan dengan standar yang sangat tinggi. Kualitas setiap hidangannya sama sekali tidak kalah dari masakan koki pribadi keluarga kami.
Di depan deretan menu yang menggoda, aku sempat ragu harus mulai dari mana. Namun, Eleonore tidak menunjukkan keraguan sedikit pun. Ia bergerak dengan gaya yang halus namun terampil, mengambil hidangan dengan keanggunan seorang rona bangsawan yang sudah terbiasa dengan jamuan formal.
Biasanya, saat mendampinginya di pesta, aku hanya berdiri mengawasinya dan tidak bisa bergerak bebas. Karena itulah, Eleonore sering membawakan makanan untukku atas inisiatifnya sendiri. Malam ini pun sama. Ia dengan senang hati mengambilkan porsiku.
Sebenarnya aku merasa tidak enak karena membiarkannya repot, tapi senyum cerahnya membuatku tak tega menolak. Hanya saja... aku sedikit terganggu dengan pilihan menunya yang agak tidak lazim. Ia mengambilkan banyak tiram, kacang-kacangan, dan hati—semuanya makanan yang dikenal sebagai penambah stamina.
Kenapa dia memilihkan makanan seperti ini untukku?
Setelah makan malam yang "bertenaga" itu, kini aku sedang mandi. Air hangat yang mengalir lembut membasuh kelelahan yang menumpuk hari ini. Sihir memang bisa membersihkan kotoran seketika, tapi bagiku, berendam dan merasakan aliran air tetaplah cara terbaik untuk menjernihkan pikiran.
Aku merenungkan kejadian hari ini. Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku menghabiskan waktu seharian penuh bersama Eleonore tanpa gangguan. Sejak masuk akademi, perbedaan kelas dan kesibukan dewan siswa sering membuat kami terpisah. Hari ini adalah perubahan suasana yang sangat menyenangkan.
Namun, besok adalah hari pelatihan wajib dari Knights Academy. Kami tidak bisa terus bersantai. Aku merasa agak tidak tenang membiarkan Eleonore sendirian besok, meskipun aku tahu dia adalah siswa terbaik dan kandidat "Bos Terakhir" yang kekuatannya jauh di atas prajurit biasa.
Aku harus bicara dengannya sebelum tidur nanti.
Setelah memantapkan niat, aku mematikan pancuran. Namun, suara air yang menghantam lantai belum berhenti. Merasa ada yang janggal, aku melirik ke samping melalui uap air yang tipis.
Dan di sanalah dia—Eleonore.
Ia sedang mandi di sana dengan tenang, seolah-olah keberadaannya di kamar mandi pria adalah hal yang paling wajar di dunia. Aku membeku seketika. Menyadari tatapanku, Eleonore menoleh dan tersenyum manis. Kami saling bertatapan selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian.
"Wa—!?"
Aku mengeluarkan jeritan aneh dan melompat mundur hingga punggungku menghantam dinding.
"Oh, kau baru sadar aku di sini?" tanya Eleonore lembut sembari terkekeh. Ia hanya mengenakan sehelai handuk mandi yang melilit tubuhnya dengan sangat berisiko.
"A-a-apa yang Anda lakukan di sini?!"
"Habisnya, Arcus lama sekali di dalam. Aku khawatir kau pingsan karena kepanasan..."
"B-bukan berarti Anda harus masuk ke sini juga, kan?! Anda tidak perlu melepas pakaian hanya untuk memeriksa keadaanku!"
Aku hampir kehilangan kendali atas suaraku. Siapa yang akan mandi bersama hanya karena merasa khawatir? Eleonore hanya memiringkan kepalanya dengan tatapan polos yang justru membuatku semakin merinding.
"Anggap saja seperti di rumah sendiri, Arcus."
"Tidak, tidak bisa! Aku sudah selesai, silakan Nyonya gunakan kamar mandinya sendirian!"
Aku bergegas menuju pintu, berniat melarikan diri secepat mungkin. Namun, langkahku terhenti total. Tubuhku terasa tersentak hebat. Saat aku menunduk, aku menyadari bahwa aku telah terjerat oleh untaian energi hitam yang pekat—Sihir Unik milik Eleonore, Celestia.
"Tidak boleh. Kau harus memulihkan tenagamu dengan benar," ucapnya dari belakang.
Aku menoleh perlahan seperti boneka rusak. Tiba-tiba, rasa hangat menyelimuti bahuku. Eleonore sudah berdiri tepat di belakangku, aromanya yang basah dan manis menyerang inderaku. Pemandangannya begitu berbahaya hingga aku terpaksa membuang muka ke langit-langit.
"Setidaknya, berendamlah sebentar bersamaku, ya? Tidak apa-apa, aku akan menjagamu."
Suaranya terdengar seperti sebuah kompromi yang lembut, namun cengkeraman sihirnya tidak mengendur sedikit pun. Aku tahu, tidak ada gunanya melawan jika dia sudah menggunakan kekuatannya. Dalam posisi terbelenggu dan tak berdaya, aku terpaksa menuruti keinginannya.
Malam itu, di dalam uap air yang panas, kepalaku terasa sangat pusing—dan aku tahu itu bukan hanya karena suhu airnya.