Kota Ethan berdenyut dalam aktivitas yang meriah. Aroma kue panggang yang manis beradu dengan harum daging berbumbu pedas dari deretan kedai pinggir jalan. Jika memandang ke arah alun-alun, sayup-sayup terdengar nyanyian riang penyanyi keliling, mengiringi anak-anak yang menari riang mengitari pusat kota.
Aku dan Eleonore menyusuri jalanan itu bersama-sama.
"Setelah sekian lama tidak keluar, kota ini terasa sangat hidup. Berbeda dengan Egenheit yang terlalu kaku dan formal, di sini ada nuansa kehidupan sehari-hari yang nyata," ujar Eleonore sembari memperhatikan orang-orang yang melintas.
Memang benar, Egenheit memiliki martabat yang tinggi—mungkin setara dengan kawasan elit di kehidupan masalalu-ku. Namun, Ethan lebih seperti kota yang memeluk rakyat jelata dengan kenyamanan.
"Budaya di sini memang unik. Ada yang ingin kau lihat? Kita bisa mampir ke mana pun kau mau," tawarku.
"Ide bagus, tapi sebelum itu, kita harus membelikanmu pakaian baru dulu, Arcus!"
Eleonore menarik lenganku dengan erat sambil tersenyum lebar. Sepertinya dia sudah bertekad bulat untuk tidak membiarkanku lolos. Tujuan kami adalah kawasan butik di atas bukit kecil. Alasannya sederhana: Eleonore merasa tidak nyaman jika aku terus mengenakan tuksedo formal di tengah kota kasual ini.
Dan benar saja, sepanjang jalan aku merasa seperti orang asing yang salah kostum. Orang-orang memberikan tatapan bingung, seolah bertanya-tanya, "Siapa pria kaku ini?"
Yah, sebagian besar perhatian itu tentu saja karena kehadiran Eleonore di sampingku. Kecantikannya yang luar biasa dan gerak-geriknya yang anggun membuatnya tampak mencolok. Saat orang-orang melihatnya, lalu melihatku yang berdiri di sisinya, wajah mereka menunjukkan ekspresi heran. Kombinasi pelayan formal dan gadis cantik di kota santai ini memang terlihat sangat canggung.
"Hehe, aku penasaran pakaian seperti apa yang cocok untukmu nanti," gumam Eleonore riang.
"Tolong, jangan pilih yang aneh-aneh," pintaku pasrah.
"Hanya sedikit bereksperimen tidak ada salahnya, kan?"
Bahkan sebelum sampai di toko, topik ini sudah menjadi perdebatan hangat baginya. Dari kostum etnik yang kasual hingga desain yang agak berani, Eleonore tampak sangat menikmati imajinasinya sendiri.
Melihatnya begitu bersemangat, aku jadi tersentuh. Dia tetaplah seorang gadis remaja yang menyukai mode. Rasanya menyenangkan melihat kami bisa mengobrol santai layaknya orang normal. Dalam benakku, sosok pria (diriku yang dulu) seolah sedang menangis haru melihat momen ini. Karena itu, aku rela jika harus menjadi "boneka pajang" untuknya hari ini.
Akhirnya, kami sampai di sebuah toko yang kabarnya paling terkemuka di Ethan. Bangunannya tampak antik namun jendelanya dihiasi manekin dengan busana berwarna cerah—sebuah harmoni antara tradisi dan modernitas.
"Selamat datang!" sambut seorang pelayan toko dengan ramah.
"Aku ingin mencarikan pakaian untuk orang ini," kata Eleonore sambil menggandeng lenganku. Pelayan toko itu sempat tertegun sejenak—mungkin mengira kami adalah pasangan yang sangat mesra.
"Baik! Apakah ada permintaan desain khusus?"
"Belum pasti, jadi bolehkah kami mencoba beberapa gaya?" tanya Eleonore sembari menyisir isi toko dengan matanya.
Eleonore mulai memilih pakaian satu demi satu tanpa ragu. Tatapannya sangat serius, persis seperti seorang ahli yang sedang memilah kualitas bahan terbaik.
"Coba ini dulu, Arcus."
Dia menyerahkan sebuah tunik biru tua yang tenang, dipadukan dengan rompi bersulam perak dan celana abu-abu gelap. Kesannya elegan namun tidak sekaku tuksedo. Saat aku memakainya dan berdiri di depan cermin, aku merasa tampilannya cukup lumayan.
"Bagaimana?" tanyaku.
Eleonore memiringkan kepala, tampak kurang puas. "Tampilan ini memang menonjolkan sisi tenangmu, tapi... rasanya terlalu kalem. Kurang memberikan kesan karakter yang kuat."
Belum sempat aku membalas, dia sudah kembali dengan setelan lain.
"Sekarang, coba yang ini!"
Kali ini adalah kemeja krem muda dengan jaket kulit cokelat dan celana hijau tua. Jaketnya memiliki sulaman rumit yang memberikan kesan berani. Saat aku membuka tirai ruang ganti, mata Eleonore sedikit berbinar.
"Jaket ini menunjukkan sisi ketegasanmu tanpa menghilangkan keanggunanmu, tapi... masih ada yang kurang pas."
Aku pun dipaksa mencoba pakaian ketiga: jaket jubah merah tua yang mencolok dengan kemeja hitam berbordir emas.
"Bukankah ini terlalu berlebihan? Aku tidak ingin menjadi pusat perhatian..."
"Jangan berpikir begitu! Mumpung kita sedang di sini, kenapa tidak mencoba sesuatu yang berani?"
Lalu datang lagi pakaian keempat, kelima, dan seterusnya. Pakaian yang lebih mirip kostum bangsawan untuk festival daripada baju sehari-hari. Variasi pakaian di toko ini benar-benar gila, dan semangat Eleonore jauh lebih gila lagi.
"Sepertinya ini lebih cocok untuk parade festival..." komentarku mulai lelah.
"Hmm, kau benar. Terlalu berlebihan. Oke, selanjutnya yang ini!"
Setelah berganti pakaian berkali-kali, tenagaku mulai terkuras. Namun, binar di mata Eleonore tidak kunjung redup. Setiap kali aku keluar dari ruang ganti, dia selalu punya komentar detail dan kritik yang tajam.
"Arcus, ini yang berikutnya! Aku yakin kali ini pasti sempurna!"
Aku hanya bisa menghela napas panjang. "Lakukan sesukamu, Nyonya..."
Sambil merasa sedikit menderita (secara fisik), aku hanya bisa pasrah membiarkan Eleonore kembali berburu di antara rak-rak pakaian dengan riang.