Header Ads Widget

Episode 51: Alcus Melakukan Langkahnya...

  


Sang Penjaga Aturan yang Bermuka Dua

Trodos berdiri dengan tangan bersedekap. Matanya tajam dan menusuk, seolah-olah dia baru saja menangkap basah seorang kriminal kelas kakap. Postur tubuhnya memancarkan martabat yang kaku dan otoritas yang tak tergoyahkan.

Pemandangan ini mengingatkanku pada ilustrasi CG dari gim aslinya—sosok anggota Komite Kedisiplinan yang kolot saat sedang menindak para pelanggar aturan sekolah. Aku ingat di gim, awal hubungannya dengan tokoh protagonis (Emma) dimulai dengan ketegangan seperti ini. Dia mungkin terlihat seperti batu yang keras kepala, tapi di balik itu semua, dia sebenarnya memiliki hati yang lurus.

Setidaknya, itulah yang diingat oleh otak otaku-ku. Dia tidak memiliki reputasi buruk di kalangan penggemar, jadi aku berasumsi dia adalah "orang baik."

"Wah, wah. Bukankah Anda Tuan Trodos?" aku menegakkan postur tubuhku, membalas tatapannya dengan tenang.

"Benar. Aku Trodos Nootbar, anggota Komite Kedisiplinan tahun pertama. Katakan, apa sebenarnya yang sedang kau rencanakan terhadap Nona Eleonore?"

"Saya tidak merencanakan sesuatu yang mencurigakan. Saya hanya datang menjemput beliau karena ada tugas OSIS yang harus kami kerjakan bersama." Aku menjawab dengan senyum yang paling tidak berbahaya yang bisa kubuat.

Trodos mengamati wajahku dengan saksama. Alisnya berkerut, menunjukkan ekspresi bingung seolah sedang mencocokkan wajahku dengan arsip di kepalanya.

"...Mungkinkah kau adalah 'Arcus Fort' yang rumornya sering kudengar?" tanyanya dengan nada yang sedikit melunak, seolah baru saja menyadari sesuatu.

"Ya, benar. Saya Arcus Fort." Aku mengangguk perlahan, tetap mempertahankan senyum profesional.

Jadi, namaku sudah sampai ke telinga Komite Kedisiplinan juga? Yah, mereka memang pihak yang paling sensitif terhadap rumor di akademi. Seharusnya fakta bahwa aku adalah pengurus OSIS cukup untuk membuktikan bahwa aku bukan penyusup berbahaya. Apalagi sebagai siswa dari kalangan biasa, dukungan status OSIS sangat krusial agar aku tidak terus-menerus dicurigai di Divisi Bangsawan ini.

"...Jadi, kau orangnya."

Trodos mengangguk kecil. Tapi anehnya, dia tidak menghilangkan kerutan di dahinya. Sebaliknya, tatapannya justru makin dalam dan intens. Eh, kenapa?! Apa masih ada alasan untuk mencurigaiku?!

"Aku minta maaf karena sempat meragukanmu," ucapnya. Meski kata-katanya adalah permintaan maaf, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa menyesal. Ia justru menatapku seolah aku adalah musuh bebuyutan. Kapan aku pernah mencari masalah dengan orang ini?

"Akhir-akhir ini, banyak sekali sekelompok pembuat onar yang berkerumun di sekitar Nona Eleonore," Trodos mulai menjelaskan alasannya dengan nada bicara yang berat.

"Benarkah begitu?"

"Ya. Sebagian besar adalah mahasiswa laki-laki yang otaknya sudah pindah ke dengkul. Mereka terpikat oleh kecerdasan dan kecantikan Nona Eleonore secara dangkal," gerutu Trodos dengan nada jijik. "Mereka mencoba mengajaknya minum teh saat istirahat, atau dengan agresif memulai percakapan di sela jam pelajaran. Bahkan kakak kelas pun berani mencoba menggodanya."

Hah, benarkah?!

Aku tidak pernah mendengar hal ini dari Eleonore. Padahal biasanya dia selalu bercerita panjang lebar tentang kegiatannya setiap kali kami bertemu. Biasanya topiknya selalu berkisar pada: "Duniaku tidak akan berjalan tanpa Arcus..."

Apakah dia sengaja menyembunyikan fakta ini agar aku tidak khawatir? Ataukah dia memang benar-benar tidak menganggap mereka ada?

"Aku sedang menindak tegas orang-orang seperti itu, jadi aku salah mengira kau adalah salah satu dari para lalat pengganggu itu," lanjut Trodos.

"Terima kasih atas kerja keras Anda... Sejujurnya, saya juga ingin berterima kasih karena Anda telah menjaga Nona Muda."

"Hmph. Aku tidak butuh rasa terima kasihmu," ia mendengus, menepis kata-kataku.

Yah, setidaknya baguslah ada pihak yang menindak tegas para pengganggu itu. Jangkauan pengawasanku terbatas karena aku berada di Divisi Ksatria. Jika Komite Kedisiplinan membantuku menjaga "keamanan" Eleonore dari jarak jauh, aku seharusnya bersyukur.

Tapi... tunggu sebentar.

"Omong-omong..." aku menyipitkan mata, menatap Trodos dengan saksama. Trodos tampak sedikit tersentak menyadari perubahan auraku.

"Deskripsi Anda tentang situasi di mana Nona Eleonore 'dikejar' oleh orang-orang itu sangat mendetail, Tuan Trodos. Apakah Nona Muda sendiri yang mengonsultasikan hal ini kepada Anda?"

Aku menanyakan apa yang terlintas di pikiranku. Rasanya sangat aneh jika Eleonore mengingat kapan dan apa yang dikatakan oleh pria-pria yang mencoba merayunya, apalagi sampai melaporkannya secara detail kepada orang lain. Mengingat sifatnya, dia kemungkinan besar akan langsung melupakan wajah mereka dalam tiga detik.

Jika dia tidak curhat padanya... lalu bagaimana Trodos tahu detail-detail sekecil itu?

"..."

Trodos terdiam. Dia mengalihkan pandangannya ke samping secara halus.

"...Aktivitas penindakan ini adalah inisiatif independen dari pihak Komite," jawabnya singkat dengan nada yang agak samar.

Tunggu. Jadi penindakan ini bukan berdasarkan laporan Eleonore? Berarti... persis seperti dugaanku.

"Tunggu sebentar. Lalu, dari mana Anda mendapatkan informasi sedetail itu jika bukan dari korban?"

Aku melangkah maju dan mencengkeram bahu Trodos dengan kuat. Pria itu menegang karena terkejut.

"T-tentu saja karena aku kebetulan lewat saat kejadian..."

"Kebetulan? Berkali-kali? Dan Anda tahu persis apa yang mereka bicarakan?" Aku mempererat cengkeramanku di bahunya, mengunci pandangannya agar tidak bisa mengelak lagi.

Wajah Trodos mulai berkeringat. Dia tergagap, "Y-yah, itu karena..."

Fix. Ini sih bukan sekadar disiplin. Ini sudah masuk kategori penguntit.

"Oh, begitu ya. Sayang sekali..." aku bergumam dengan nada dingin.

"Hah?!"

Aku mencengkeram bahunya makin erat sampai terdengar suara tulang yang berderit. Di dunia dengan sihir penyembuhan ini, luka fisik kecil seperti ini bukan masalah besar, jadi aku tidak ragu untuk memberinya sedikit "pelajaran".

Aku tidak habis pikir. Seseorang yang meneriakkan "ada penjahat!" ternyata adalah penjahatnya sendiri. Dalam ingatanku dari kehidupan lama, tipe penguntit yang merasa dirinya "pahlawan kebenaran" adalah yang paling merepotkan dan berbahaya.

Aku harus memberikan peringatan keras agar dia tahu batasannya. Aku sedang menimbang-nimbang hukuman sosial apa yang paling cocok untuk menghancurkan semangat penguntit ini, saat tiba-tiba...

"ARCUS!"

Sebuah suara riang memanggil namaku. Aku secara naluriah langsung melepaskan cengkeramanku pada Trodos.

Eleonore berlari menghampiriku dan langsung memeluk lenganku dengan erat. "Kalau kau sudah sampai, seharusnya kau langsung memanggilku!"

"E-eh... Nona Muda... Tadi saya baru saja akan memanggil Anda..."

Aku melirik Trodos yang kini terduduk lemas di lantai, bahunya terkulai dengan aura keputusasaan yang kental seolah-olah dunianya baru saja hancur berkeping-keping karena diabaikan.

"Ayo, Arcus. Kita harus segera menyelesaikan tugas OSIS itu sebelum hari gelap," ajak Eleonore dengan senyum manis, menyipitkan matanya dengan manja ke arahku.

Dia sama sekali tidak melirik ke arah Trodos yang sedang berpose aneh di lantai. Apa dia benar-benar tidak menyadari keberadaan pria itu? Ataukah dia memang sengaja menganggapnya sebagai pajangan koridor?

"T-tunggu sebentar, Nona Muda..."

Eleonore menarikku makin dekat, tidak memberiku celah untuk menyelesaikan urusanku dengan si penguntit disiplin ini. Sepertinya bagi Eleonore, Trodos bahkan tidak dianggap sebagai ancaman yang layak dilirik.

Yah, sudahlah. Untuk saat ini aku lepaskan dia.

(Jika kau berani mengikutinya lagi, aku tidak akan segan-segan menghancurkanmu,) bisikku dingin tepat di telinga Trodos saat aku melangkah melewatinya, mengikuti tarikan manja Eleonore.


Previous Chapter | LIST | Next Chapter


Post a Comment

0 Comments