Kesibukan OSIS dan Tatapan Dingin Sang Komite Kedisiplinan
Tugas Dewan Mahasiswa ternyata jauh lebih beragam dan melelahkan daripada yang kubayangkan.
Mulai dari menangani urusan administratif harian yang membosankan, hingga mengatur protokol rumit yang melibatkan hubungan diplomasi antar keluarga bangsawan tingkat atas. Sebagai pengurus baru yang ditugaskan di bagian Urusan Umum, aku benar-benar terkubur di bawah tumpukan dokumen.
"Fiuh... Sudah lama sekali aku tidak sesibuk ini," gumamku pelan.
Di dalam gudang arsip gedung OSIS yang sunyi, aku menghela napas panjang. Aku memang terbiasa sibuk saat bekerja di kediaman Unshineness, tapi beban kerja di sini berada di level yang berbeda. Anehnya, alih-alih merasa tertekan, rasa lelah ini justru membuatku merasa sedikit nostalgia—mengingatkan pada masa-masa lembur di duniaku sebelumnya.
"...Oh, sudah selarut ini?"
Aku melirik jam dinding, lalu mulai merapikan tumpukan dokumen yang berserakan di mejaku. Kebetulan hari ini tidak ada jadwal kelas untuk Divisi Ksatria; para taruna diberikan waktu untuk pelatihan mandiri. Secara teknis, ini adalah hari libur.
Teman-teman sekelasku pasti sedang antusias berlatih tanding atau sekadar bersantai di asrama. Sebagai murid beasiswa, aku ragu akan mendapatkan izin untuk keluar gerbang akademi hanya untuk bersenang-senang. Karena itulah aku memilih untuk mencicil pekerjaan OSIS, tapi tak kusangka waktu bisa berlalu secepat ini jika kau fokus bekerja.
Setelah memastikan semua dokumen tersimpan rapi, aku segera meninggalkan ruangan yang dipenuhi aroma kertas tua tersebut. Aku bergegas menuju area Gedung Divisi Bangsawan. Tepat saat aku melangkah keluar dari gedung OSIS, suara lonceng besar akademi berdentang di kejauhan, menandakan berakhirnya jam pelajaran.
Aku mempercepat langkahku, sambil sesekali memastikan lencana bintang OSIS di dadaku terpasang dengan benar.
Sejujurnya, ini adalah pertama kalinya aku benar-benar menginjakkan kaki di halaman depan Gedung Divisi Bangsawan. Biasanya, aku dan Eleonore bertemu di titik tengah dekat air mancur, atau malah dia yang dengan antusias menghampiriku ke area Ksatria.
Sesuai dugaanku, suasana di sini sangat berbeda. Jika Gedung Ksatria selalu ramai dengan teriakan latihan dan benturan senjata, area Bangsawan jauh lebih bising dengan suara obrolan dan tawa yang elegan. Aku sedikit gugup, mencoba mengingat-ingat peta lantai yang pernah kupelajari untuk mencari ruang kelas Eleonore.
"Hei, lihat lencananya..." "Mungkinkah... orang itu adalah si 'Testbreaker'?" "Wah, ternyata dia benar-benar ada di sini." "Sedang apa seorang Ksatria berkeliaran di area kelas kita?"
Bisik-bisik mulai terdengar setiap kali aku berpapasan dengan siswa-siswi bangsawan. Namaku tampaknya memang sudah menyebar luas, terutama setelah aku berhasil masuk ke jajaran pengurus OSIS. Aku berusaha tidak memedulikan tatapan penuh selidik mereka. Tolong, jangan bergosip tepat di depanku, keluhku dalam hati.
Akhirnya, aku tiba di depan ruang kelas Nona Mudaku. Berbeda dengan kelas Divisi Ksatria yang fungsional dan sederhana, kelas ini terlihat sangat luas, indah, dan mewah—benar-benar memancarkan atmosfer eksklusif bagi kaum elit. Aku mengintip dengan hati-hati melalui jendela koridor. Pelajaran tampaknya baru saja usai, dan para siswa mulai bersiap untuk pergi.
Aku khawatir kami akan saling berpapasan di pintu tanpa sempat menyapa, jadi aku mengintip lebih dekat melalui celah pintu yang terbuka sedikit. Dan di sanalah dia, fokus perhatian utama di ruangan itu.
"Wah, sekarang aku mengerti penjelasannya! Terima kasih banyak, Eleonore!" "Luar biasa! Soal aritmatika serumit ini pun bisa kau pecahkan dengan mudah!" "Cara Eleonore menjelaskan benar-benar lebih jelas daripada penjelasan guru, ya?"
Terdengar suara tawa dan pujian dari sekelompok gadis yang mengerumuni satu meja. Di tengah kelompok itu, duduk Eleonore Unshineness.
"Hehe, tidak perlu berlebihan. Aku sendiri masih harus banyak belajar, kok," jawabnya dengan senyum lembut yang sangat manis.
...Itu bukan senyum formal atau "senyum bisnis" yang biasa dia tunjukkan saat acara sosial. Aku bisa merasakan bahwa dia benar-benar tertawa tulus dari lubuk hatinya.
Melihat pemandangan itu, hatiku terasa sedikit bergetar. Dalam cerita asli Celestia Kingdom, Eleonore digambarkan sebagai sosok munafik yang selalu memakai topeng kepalsuan, selalu berusaha menjatuhkan orang lain, dan tidak pernah memiliki teman sejati yang tulus.
Melihat "Eleonore yang sekarang" bisa berteman dengan begitu normal... aku nyaris ingin meneteskan air mata haru.
"Kau sudah sangat berprestasi, tapi masih terus rendah hati dan belajar keras!" "Kalau kau terus begini, kau akan berada di level yang tidak bisa kami capai..."
Teman-teman sekelasnya terus memberikan pujian tulus. Sepertinya ia benar-benar diberkahi dengan lingkungan pertemanan yang baik.
(Ya, kalian benar sekali. Nona Mudaku memang sehebat itu.) Aku mengangguk-angguk bangga dari balik pintu sambil bersedekap. Aku merasa sangat bangga melihat kerja keras dan ketekunannya selama ini akhirnya membuahkan hasil dan diakui oleh orang lain.
"...Ah, gawat. Apa yang kulakukan?" Aku tersadar. Alih-alih menjalankan tugas, aku malah bertingkah seperti orang tua yang sedang memata-matai anaknya di sekolah. Fokus, Arcus! Kerja!
Sepertinya percakapan mereka sudah hampir selesai. Inilah saat yang tepat untuk memanggilnya.
"Nona Eleonore────"
Tepat sebelum aku sempat memanggil namanya, sebuah tangan besar mencengkeram bahuku dengan sangat kuat. Suara bariton yang dingin dan penuh otoritas terdengar tepat di belakang telingaku.
"Hei. Apa urusanmu dengan Nona Eleonore, Ksatria?"
Suara itu rendah, tegas, dan sangat mengintimidasi. Aku perlahan memutar tubuhku untuk melihat siapa pelakunya.
Berdiri di hadapanku adalah seorang pria dengan rambut hijau gelap yang ditata sangat kaku—aku sampai heran berapa banyak minyak rambut yang ia habiskan setiap pagi. Perawakannya tegap, dengan mata almond yang tajam dan dingin, memberikan kesan pria yang sangat tenang namun berbahaya.
"...Tuan Trodos?" Nama itu meluncur begitu saja dari bibirku.
Sosoknya persis seperti yang ada dalam ingatanku tentang gim Celestia Kingdom. Pria di hadapanku ini adalah salah satu target cinta utama: Trodos, sang anggota Komite Kedisiplinan yang kaku, yang ditakdirkan jatuh cinta pada sang protagonis meski ia tahu itu akan melanggar prinsip-prinsip ketatnya.
0 Comments