Header Ads Widget

Episode 44 Seminggu Bersekolah & Lamaran Mengejutkan


(Bagian: Seminggu Bersekolah & Lamaran Mengejutkan)

Setelah hari pertama yang penuh gejolak itu, waktu terasa melesat berlalu begitu cepat bagai anak panah. Bukan berarti kehidupan sehari-hari di Akademi Ksatria ini membosankan. Sebaliknya, jadwal di sini sangat padat. Kelas teori dan sesi latihan fisik berlangsung silih berganti setiap hari, membuatku begitu sibuk hingga hampir tidak punya waktu untuk menghela napas.

Hanya saja, karena rangkaian kejadian di hari pertama terlalu gila dan absurd, segala rutinitas melelahkan setelahnya jadi terasa lebih 'normal' dan bisa diatasi. Jadi, begitulah ceritanya; sekitar satu minggu telah berlalu sejak hari pertama sekolah.

"Demikianlah porsi latihan untuk hari ini! Silakan beristirahat dan persiapkan fisik kalian untuk menu latihan besok!" "Siaaaap!!"

Instruksi lantang Instruktur Kirill menggema di lapangan. Seluruh siswa di kelas langsung merespons dengan teriakan kompak penuh semangat. Langit di atas kami sudah diwarnai semburat merah tua, dan batas cakrawala di ufuk barat mulai meredup gelap.

"Ahhh... Tulangku rasanya mau rontok..." "Akhirnya, siksaan di minggu pertama ini selesai juga..." "Selesai apanya? Besok kan masih ada latihan tambahan."

Postur teman-teman sekelasku, yang beberapa detik lalu berdiri tegak sempurna dengan sikap siaga, seketika lemas dan mencair ke tanah bagaikan balon yang kempis. Bahkan aku, yang staminanya di atas rata-rata mereka, baru bisa melepaskan ketegangan di pundakku saat ini. Akademi Ksatria menerapkan kontrol kedisiplinan yang sangat brutal. Jika ketahuan sedikit saja rileks saat sesi latihan atau kelas berlangsung, hukumannya tidak main-main.

"Kerja bagus hari ini, Arcus!"

Saat aku sedang mengelap keringat di leherku menggunakan handuk, sebuah suara ceria menyapaku dari samping.

"Ah, kau juga, Emma. Terima kasih atas kerja kerasmu hari ini." "Iya, hari ini benar-benar melelahkan, ya," balasnya.

Meskipun mulutnya mengeluh lelah, gadis itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan di wajahnya. Energinya seolah tidak ada habisnya. Benar-benar daya tahan stamina yang khas dari seorang Protagonis. Di dalam gim utama, para pemain tidak pernah diperlihatkan sisi sesehat dan seenergik ini darinya di arena tempur. Jadi, sebagai mantan nerd gim Celestia Kingdom, melihat pemandangan ini sebenarnya cukup memuaskan batin.

Tentu saja, aku tidak bisa menunjukkan antusiasme fanboy-ku itu di depan umum. Kalau aku melakukannya, aku hanya akan terlihat seperti pria mesum yang aneh. Selain itu, setelah hidup di dunia ini secara nyata selama 15 tahun, perspektifku sebagai "Pemain" perlahan-lahan memudar.

"Oh ya, aku mempraktikkan saran kuda-kuda berpedang yang kau ajarkan tempo hari, dan hari ini Instruktur Kirill memujiku, lho! Terima kasih banyak, Arcus!" Emma bercerita dengan mata berbinar-binar dan senyum semringah.

Beberapa hari yang lalu, Emma memang sempat berkonsultasi padaku karena dia merasa payah di kelas ilmu pedang praktik. Sepertinya sedikit koreksi postur yang kuajarkan waktu itu benar-benar membuahkan hasil. Baguslah kalau begitu!

"Sama-sama. Lagipula, aku hanya melakukan apa yang wajar dilakukan oleh seorang teman." "Heh, kau selalu saja merendah!" Mendengar balasanku, Emma merespons dengan nada bercanda. Ia bahkan menirukan gestur mengusap leher yang sering kulakukan secara tak sadar, membuatku hanya bisa membalasnya dengan senyum kecut.

"Oi, Arcus!!"

Saat kami sedang asyik mengobrol santai, aku mendengar seseorang memanggilku dari arah loker. Ketika menoleh, aku melihat sekelompok teman-teman sekelas pria—yang tadi berlatih bersamaku—berkumpul di sana.

"Kami berencana mau makan malam bersama di kantin asrama hari ini. Kau mau ikut gabung, tidak?!" seru salah satu dari mereka.

Wah, tawaran yang sangat menggiurkan untuk mempererat hubungan sosial. Sayangnya, aku tidak bisa menerimanya hari ini.

"Maaf, kawan-kawan. Aku sudah ada janji di tempat lain sore ini," jawabku setengah berteriak.

Tepat saat aku menolak, gerombolan cowok itu malah serempak berseru, "Oooooh!" dengan nada penuh arti.

"Oh, benar juga. Pemilihan itu kan diadakan minggu depan, ya?" "Wah, tidak terasa sudah minggu depan saja." "Semangat kampanye-nya, Pak Ketua Angkatan!" "Aku pasti akan mem-voting Arcus, jadi lakukan yang terbaik! Tapi kalau kau menang, kau harus mentraktir kami makan enak, ya!"

Teman-teman sekelasku bersorak saling menimpali. Mereka melontarkan komentar ringan dan candaan khas anak laki-laki. Baru seminggu berlalu, tapi rasanya kami sudah sangat akrab. Setelah melewati siksaan menu latihan fisik yang brutal ini tujuh hari berturut-turut, akan lebih aneh jika rasa persaudaraan dan solidaritas kami tidak terbentuk kuat.

"...Aku belum bilang aku akan mencalonkan diri, lho. Tapi kalau aku memang disuruh maju, mohon suaranya, ya." Aku membalas candaan mereka dengan santai.

Setelah bertukar lambaian tangan singkat, aku memperhatikan mereka melangkah pergi menuju asrama. "Baiklah, sampai jumpa besok!" seru mereka.

"Oh, sayang sekali. Padahal aku aslinya juga berencana mengajakmu dan Elette makan malam bersama hari ini." Setelah gerombolan cowok itu menghilang dari pandangan, Emma bergumam dengan nada kecewa.

Elette. Ah, gadis penyihir Kegelapan yang satu tim dengan kami saat ujian tempur itu, kan? Menurut cerita Emma tempo hari, Elette rupanya juga berhasil lulus ujian masuk. Aku cukup terkejut sekaligus senang saat tahu bahwa kami bertiga—yang awalnya cuma tim undian acak, ditambah semuanya dari kalangan rakyat biasa—ternyata berhasil lulus dan masuk ke Divisi Ksatria. Meskipun aku dan Elette sayangnya tidak ditempatkan di kelas yang sama.

Aku sebenarnya sangat ingin menyapanya jika ada waktu luang, tapi sayangnya jadwalku terlalu padat.

"Maaf ya, Emma. Tapi kita bisa agendakan makan malamnya di lain waktu." "Ah, tidak apa-apa! Jangan dipikirkan! Toh kita kan bisa bertemu kapan saja selama kita berada di akademi yang sama ini!" Mendengar permintaan maafku, Emma buru-buru melambaikan kedua tangannya dengan panik seolah menyuruhku tidak perlu merasa bersalah.

Ucapan itu memang terdengar manis, tapi aku tidak begitu yakin kalau kami bisa "bertemu kapan saja". Meskipun secara fisik asrama kami tidak terlalu jauh, jika mempertimbangkan padatnya jadwal latihan, pekerjaan paruh waktuku, dan jam malam asrama, peluang kami untuk bisa sekadar berkumpul santai sebenarnya sangat sempit. Kecuali jika kami sengaja mengatur janji jauh-jauh hari, cukup sulit untuk bisa sekadar berpapasan dan mengobrol lama. Apalagi kami berbeda jenis kelamin, yang membuat akses ke area asrama masing-masing sangat dilarang. Jadi, aku sangat berharap kami bisa segera merealisasikan rencana reuni tim itu. Hal-hal semacam ini kalau terus ditunda malah akan berujung wacana batal.

"Baiklah kalau begitu, aku duluan ya. Sampai jumpa besok, Emma-san." "Ya! Sampai jumpa besok!"

Emma segera berbalik dan berlari kecil menyusul kelompok murid perempuan yang menunggunya di dekat gerbang lapangan. Mungkin karena populasi perempuan di kelas kami sangat sedikit, para gadis itu tampaknya memiliki ikatan solidaritas yang sangat kuat satu sama lain. Bukan berarti ada batasan pergaulan antara cowok dan cewek di sini, tetapi tentu ada obrolan-obrolan yang hanya nyaman dibagikan dengan sesama perempuan. Dan dalam lingkungan kelompok yang minoritas, rasa persaudaraan itu secara alami akan terbentuk.

Saat ini, Emma adalah satu-satunya gadis di kelasku yang cukup dekat dan nyaman kuajak bicara. Jadi, kuharap suatu hari nanti aku bisa berteman baik dengan gadis-gadis lainnya juga melalui Emma.

Saat aku memikirkan hal itu, aku baru sadar bahwa aku adalah satu-satunya orang yang tersisa di seluruh area lapangan latihan ini. Baiklah, kurasa aku harus cepat-cepat pergi juga. Kalau aku sampai datang terlambat, Nona mudaku yang satu itu pasti akan mengamuk dan merajuk berhari-hari. Dengan memendam sedikit rasa khawatir (dan takut), aku bergegas berjalan menuju pintu keluar lapangan latihan.

"Ah! Arcus! Tunggu sebentar!"

Sebuah suara nyaring menghentikan langkahku.

"...Ada apa?" Saat aku menoleh, aku melihat Emma setengah berlari menghampiriku. Dia memang tidak sampai kehabisan napas, tapi poninya sedikit berantakan, menunjukkan bahwa dia baru saja putar balik dan lari mengejarku.

"Bukan 'Emma-san', kan?" tegurnya dengan senyum penuh arti.

Oh. Benar juga. Aku baru menyadari kesalahanku barusan, lalu menggaruk pipiku sambil tersenyum canggung.

"...Baiklah. Sampai jumpa besok, Emma." Mendengar revisi kalimatku, ekspresi usil Emma langsung berubah menjadi senyuman cerah yang sangat manis.

"Nah, begitu dong! Sampai jumpa besok, Arcus!" Dengan suara yang puas dan sangat riang, ia kembali berbalik dan berlari pergi.

..."Karena kita kan teman sekelas, jadi panggil nama langsung saja, ya!" Begitulah aturan yang diusulkan Emma tempo hari. Karena dia merasa canggung kalau kami saling menyapa terlalu formal, dia meminta agar aku menghilangkan embel-embel sufiks "-san" atau "-sama" padanya.

...Tapi yah, mau bagaimana lagi. Aku sudah bereinkarnasi dan hidup di dunia ini selama 15 tahun. Karena pekerjaanku adalah seorang pelayan seumur hidup, menggunakan bahasa sopan dan honorifik sudah tertanam dalam DNA-ku. Aku tak pernah sadar kalau aku sedang memakai bahasa formal, itu keluar begitu saja. Ditambah lagi, sejauh ini, hampir semua orang di sekitarku adalah majikan atau orang yang statusnya jauh lebih tinggi dariku... Karena itu, membuang kesopanan berbahasa rasanya sangat kaku di lidahku. Butuh waktu untuk membiasakannya. Sepertinya ke depannya aku masih akan sering ditegur olehnya karena salah panggil seperti ini...

Dengan pemikiran tersebut, aku kembali melangkah meninggalkan area lapangan tempur.


Aku tiba di area Taman Air Mancur, tempat yang kusepakati dengan Eleonore seminggu yang lalu untuk menjadi titik kumpul harian kami. Jika kau menarik garis lurus di atas peta yang menghubungkan Gedung Divisi Bangsawan dan Gedung Divisi Ksatria, alun-alun air mancur ini akan berada tepat di titik poros tengahnya. Lokasinya sangat ideal untuk tempat pertemuan dua belah pihak—bahkan saking idealnya, aku curiga arsitek akademi ini memang sengaja mendesainnya untuk ajang kencan.

Kami sudah berjanji bertemu di sini sore ini. Namun anehnya, Eleonore... belum terlihat batang hidungnya di mana pun. Padahal jadwal jam pulang Divisi Bangsawan seharusnya lebih cepat dari jadwal latihan militer Ksatria. Apa terjadi sesuatu padanya? Atau ada kelas tambahan? Karena aku tidak tahu jadwal detailnya, dan aku juga tidak bisa sembarangan masuk ke area asrama bangsawan, yang bisa kulakukan hanyalah duduk menunggunya di sini.

Maka, aku duduk di salah satu bangku taman, mencoba menikmati sisa sore yang tenang.

...Dan setelah menunggu cukup lama, radarku tiba-tiba mendeteksi kehadiran dua pasang langkah kaki yang mendekat dari belakang punggungku. Awalnya kupikir itu akhirnya Eleonore... dan dugaanku memang setengah benar. Tapi, dia tidak datang sendirian.

Saat aku melirik lewat sudut mataku, aku melihat seorang siswa laki-laki dari Divisi Bangsawan berjalan di depan, sementara Eleonore mengekor tepat di belakang pria itu. Awalnya aku berniat menyapa, mengira pria itu adalah teman barunya. Namun, insting pelayanku mendadak menangkap vibe (suasana) yang sangat tidak wajar dan aneh dari bahasa tubuh pria itu.

Entah kenapa, tubuhku bereaksi lebih dulu. Aku merapalkan sihir penyamar hawa keberadaan tingkat rendah pada diriku, lalu diam-diam meluncur sembunyi di balik patung besar dekat air mancur.

Kedua orang itu kemudian berhenti dan berdiri saling berhadapan, tepat di depan area air mancur tempatku duduk beberapa saat yang lalu. Sambil menahan napas dan menempelkan punggung di balik batu, aku mengintip dari celah, bertanya-tanya, "Drama macam apa yang sedang terjadi ini...?"

Dan detik berikutnya. Pria itu tiba-tiba mengambil posisi berlutut dengan satu kaki di hadapan Eleonore.

"Nona Eleonore! Kumohon, terimalah lamaranku dan jadilah tunanganku!!"

Pernyataan cinta yang lantang itu menggema. Saking kagetnya, aku secara naluriah nyaris terlompat keluar dari persembunyianku.

Previous Chapter | LIST | Next Chapter

Post a Comment

0 Comments