Header Ads Widget

Episode 1-5 : Reinkarnasi Menjadi Pendeta Figuran: Aku Akan Menyelamatkan Sang Saintess dari Takdir Buruk

 

Reinkarnasi Menjadi Pendeta Figuran: Aku Akan Menyelamatkan Sang Saintess dari Takdir Buruk

Episode 1: Pertemuan dengan Gadis yang Seharusnya Menjadi Pahlawan

Dunia ini terasa sangat familier.

Aku, Clael Byrne, adalah seorang pendeta muda di sebuah kuil kota terpencil. Kesadaran bahwa aku berada di dalam dunia otome game muncul seketika saat seorang gadis kecil melangkah masuk ke dalam kapel yang sepi.

"Pastor... bolehkah saya berdoa?"

Suaranya gemetar, membuatku tertegun.

Gadis itu berusia sekitar sepuluh tahun. Rambut abu-abunya kusut masai, pakaiannya tak lebih dari kain lusuh yang kotor, dan tubuhnya sangat kurus hingga tulang-tulangnya menonjol. Namun, di balik kotoran itu, sepasang mata berbentuk almond dengan iris hijau giok bersinar dengan indah.

Aku mengenalnya. Sangat mengenalnya.

Dia adalah Reina Laurel—tokoh utama dari game Beyond the Rainbow yang kumainkan di kehidupan sebelumnya.

"Tidak mungkin..." gumamku tanpa sadar.

"Pastor?" Reina menunduk, matanya bergetar penuh kecemasan. Dia tampak terbiasa diusir karena penampilannya yang menyedihkan.

"Ah, tidak. Silakan," aku segera menguasai diri. "Berdoalah sepuasmu, Nak."

Reina tersenyum lega—sebuah senyum kecil yang sangat rapuh. Dia berlutut di lantai batu yang dingin dan menyatukan kedua tangannya.

Saat itulah, mukjizat itu terjadi. Partikel cahaya putih mulai berpendar dari tubuh Reina, melayang perlahan, dan terserap ke dalam patung dewi di belakangku. Ini adalah adegan pembuka game tersebut. Bukti bahwa Reina bukanlah manusia biasa, melainkan seorang "Santa" (Saintess).

Namun, di balik kekuatan suci itu, ada tragedi. Reina adalah anak haram seorang pedagang yang disiksa oleh ibu tiri dan saudara tirinya. Dia datang ke sini untuk berduka atas kematian ibunya.

Jadi, di sinilah peranku dimulai, pikirku.

Di kehidupan sebelumnya, aku adalah seorang pekerja kantoran di Jepang yang tewas karena serangan jantung tepat setelah mengundurkan diri dari perusahaan black company yang toxic. Aku bereinkarnasi sebagai putra kelima keluarga Marquis Byrne. Karena tidak memiliki hak waris, aku memilih jalan menjadi pendeta agar bisa hidup santai dan mewah dari donasi tanpa harus bekerja keras lagi.

Tapi, melihat Reina yang sedang berdoa dengan tulus di hadapanku... rencana "hidup santai" itu tiba-tiba terasa sangat jauh.


Episode 2: Pai Apel dan Sebuah Keputusan

Reina selesai berdoa. Cahaya suci itu menghilang, dan dia kembali menjadi gadis kecil yang tampak kelaparan.

"Terima kasih, Pastor. Saya merasa lebih baik sekarang," ucapnya sopan.

Sesuai skenario game, aku seharusnya melaporkan kejadian ini ke Kuil Agung di Ibukota. Reina akan dijemput, dibawa ke Ibukota, dan memulai perjalanannya sebagai pahlawan wanita. Namun, aku teringat satu hal: pelatihan di Kuil Agung sangatlah brutal. Dalam game, Reina sering digambarkan menangis dan menderita akibat didikan keras yang nyaris seperti penyiksaan.

Haruskah aku membiarkan gadis sekecil ini masuk ke neraka yang baru?

"Reina," panggilku. "Apakah kau lapar? Aku punya pai apel di belakang."

Mata Reina membelalak. "T-tapi, saya kotor... saya tidak pantas..."

"Di rumah Tuhan, semua orang pantas mendapatkan pai apel," ujarku sambil tersenyum hangat, berusaha menyembunyikan identitas asliku sebagai mantan gamer yang sedikit malas.

Aku membawanya ke ruang dalam dan menyajikan pai apel serta teh hangat. Reina melahapnya dengan sangat cepat, hingga air mata mulai jatuh ke piringnya.

"Enak... ini sangat enak..." isaknya.

Hatiku terasa seperti diremas. Aku tidak bisa mengirimnya ke Kuil Agung sekarang, tapi aku juga tidak bisa membiarkannya kembali ke keluarga pedagang yang menyiksanya itu.

"Reina, maukah kau bekerja di sini?" tanyaku tiba-tiba. "Aku melihat bakat suci dalam dirimu. Aku bisa mengajarimu ilmu sihir suci di sini, di kuil ini."

Reina tertegun, potongan pai apel masih di mulutnya. "Bekerja? Orang seperti saya... dibutuhkan?"

"Ya. Aku membutuhkanmu."

Reina menangis lebih keras lagi. Dia memelukku, menumpahkan semua kesedihan dan rasa sakit yang selama ini dia pendam sendiri.


Episode 3: Luka yang Tersembunyi di Balik Debu

Malam pun tiba. Setelah Reina tenang, masalah berikutnya muncul: kebersihan.

"Mandi? Saya... saya belum pernah mandi air hangat," bisik Reina ketakutan.

Di dunia ini, mandi air hangat adalah kemewahan. Keluarga pedagangnya pasti hanya membiarkannya membasuh diri dengan air sumur yang dingin.

"Airnya sudah kusiapkan. Ayo, kau harus bersih agar tidak sakit," ajakku.

Namun, Reina gemetar. "Bolehkah... bolehkah Pastor menemani saya? Saya takut dengan bak airnya..."

Aku membeku. Aku delapan belas tahun, dia sepuluh tahun. Secara moral, ini sangat berisiko. Tapi melihat ketakutannya yang tulus, aku akhirnya mengalah. Aku akan membantunya seperti seorang kakak—atau ayah.

Namun, saat kami berada di ruang ganti dan Reina melepas pakaian lusuhnya, napasku tercekat.

Tubuh kecil itu penuh dengan bekas luka. Ada memar ungu yang masih baru, bekas cambukan yang sudah mengering, dan bekas luka bakar kecil yang tampak seperti sundutan rokok.

"Brengsek..." umpatku dalam hati.

"Pastor? Ada yang salah?" tanya Reina polos.

Tanpa banyak bicara, aku merapalkan sihir. "Heal (Penyembuhan Suci)."

Cahaya hijau lembut menyelimuti tubuh Reina. Satu per satu, bekas luka itu memudar dan menghilang, meninggalkan kulit putih bersih yang seharusnya dimiliki seorang gadis seusianya.

"Luka-lukanya... hilang? Rasanya tidak sakit lagi," gumam Reina sambil menyentuh kulitnya sendiri dengan takjub.

"Sekarang, tidak akan ada yang menyakitimu lagi," kataku dengan suara serak, menahan amarah yang membara terhadap keluarganya.

Aku memandikannya dengan hati-hati, menyisir rambut abu-abunya yang ternyata berwarna perak indah saat terkena air. Di balik kotoran itu, ada berlian yang sedang menunggu untuk bersinar.


Episode 4: Janji di Bawah Sinar Rembulan

Karena kuil kecil ini hanya punya satu tempat tidur, dan Reina menolak tidur di lantai, kami berakhir berbagi ranjang. Reina meringkuk di pelukanku seperti anak kucing yang takut ditinggalkan.

"Jangan... jangan pukul saya..." igyaunya dalam tidur. Air mata mengalir dari matanya yang terpejam.

Aku meletakkan tangan di kepalanya. "Mind Healing (Penyembuhan Pikiran)."

Cahaya biru tenang terpancar, memberikan kedamaian pada mimpinya. Napasnya mulai teratur, dan senyum kecil muncul di bibirnya.

Awalnya, aku hanya ingin hidup santai, pikirku sambil menatap langit malam dari jendela. Tapi sekarang, tujuanku berubah. Aku akan melindungimu, Reina. Sampai kau cukup kuat untuk menentukan takdirmu sendiri sebagai seorang pahlawan wanita.

Dia ditakdirkan untuk menjadi orang besar, menikah dengan pangeran atau pahlawan, dan hidup bahagia. Tapi sebelum itu terjadi, dia butuh tempat tinggal yang aman. Dan aku akan menjadi pelabuhan itu.


Episode 5: Menghadapi Ayah Beracun

Keesokan harinya, aku mengenakan jubah pendetaku yang paling formal. Aku meninggalkan Reina di kuil dengan instruksi ketat untuk tidak membukakan pintu bagi siapa pun.

Tujuanku adalah: Perusahaan Dagang Auster.

"Selamat siang, Tuan Auster," ujarku saat bertemu dengan pria tambun berwajah rakus itu di ruang tamunya yang mewah.

"Ah, Pastor Byrne! Keluarga Marquis Byrne yang termasyhur! Ada apa gerangan Anda mengunjungi tempat rendah ini?" ucapnya dengan nada menjilat yang memuakkan.

Aku tidak membuang waktu. Aku meletakkan sekantong besar koin emas di meja—tabungan yang kupersiapkan untuk masa pensiun duniaku.

"Aku ingin mengambil hak asuh Reina Laurel," kataku langsung.

Auster tertegun, lalu seringai licik muncul di wajahnya. "Putri haram itu? Dia hanya membuat masalah. Tapi... dia tetap aset keluarga kami."

"Aku tahu dia sering kau siksa," suaraku merendah, dingin dan mengancam. "Pilihannya sederhana: Ambil emas ini dan tanda tangani surat penyerahan hak asuh, atau aku akan melaporkan penganiayaan ini ke otoritas kerajaan menggunakan nama keluarga Byrne."

Mendengar nama "Byrne", wajah Auster memucat. Bagi pedagang kecil sepertinya, melawan keluarga Marquis adalah bunuh diri.

"Baik, baik! Ambil saja gadis pembawa sial itu!" Auster menandatangani dokumen tersebut dengan terburu-buru, matanya tetap melirik kantong emas di meja.

Saat aku melangkah keluar dari toko itu, aku merobek surat yang menghubungkan Reina dengan keluarga itu.

Reina, sekarang kau bebas, batinku.

Aku berjalan kembali ke kuil dengan senyum puas. Mungkin hidup santaiku akan sedikit lebih sibuk sekarang karena harus mengasuh seorang calon Saintess, tapi entah kenapa, itu terasa jauh lebih berharga daripada hanya sekadar berleha-leha.


PREVIOUS CHAPTER | LIST | NEXT CHAPTER

Post a Comment

0 Comments